aijingtu – Ketegangan di Timur Tengah selalu punya efek domino ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Namun, jika skenario terburuk benar-benar terjadi, yaitu Selat Hormuz kembali ditutup dan perjanjian damai gagal, dampaknya bisa jauh lebih serius daripada sekadar harga minyak naik sesaat.
Selat Hormuz bukan jalur laut biasa. Menurut U.S. Energy Information Administration, arus minyak melalui Selat Hormuz pada 2024 hingga kuartal pertama 2025 mencakup lebih dari seperempat perdagangan minyak laut global dan sekitar seperlima konsumsi minyak serta produk petroleum dunia. Jalur ini juga menjadi rute penting untuk sekitar seperlima perdagangan LNG global, terutama dari Qatar.
Artinya, ketika jalur ini terganggu, dunia bukan hanya menghadapi masalah geopolitik, tetapi juga krisis energi. Bagi Indonesia, efeknya bisa merembet ke nilai tukar rupiah, harga BBM, subsidi energi, inflasi, APBN, biaya logistik, hingga daya beli masyarakat.
Table of Contents
Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting bagi Indonesia?
Indonesia memang bukan negara Teluk, tetapi ekonomi Indonesia sangat sensitif terhadap harga minyak dunia. Sebagai negara yang masih mengimpor minyak dan BBM, setiap kenaikan harga energi global akan terasa langsung maupun tidak langsung di dalam negeri.
International Energy Agency menjelaskan bahwa Selat Hormuz adalah rute ekspor utama minyak dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Irak, Bahrain, dan Iran. IEA juga menegaskan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat membuat sebagian besar kapasitas produksi cadangan dunia sulit diakses, karena cadangan besar banyak berada di kawasan Teluk.
Bagi Indonesia, persoalannya bukan hanya apakah kapal dari Timur Tengah bisa sampai atau tidak. Masalah yang lebih besar adalah ketika pasar global panik, harga minyak melonjak, biaya asuransi kapal naik, ongkos logistik bertambah, dan negara importir energi harus membayar lebih mahal.
Skenario Pertama: Harga Minyak Melonjak Lagi
Jika perjanjian damai gagal dan perang berlanjut lama, harga minyak hampir pasti kembali naik. Bahkan ketika ada kesepakatan sementara untuk membuka kembali jalur Hormuz, AP melaporkan bahwa normalisasi arus minyak bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan karena hambatan logistik dan keamanan.
Jika jalur ini kembali ditutup, pasar akan langsung menghitung ulang risiko pasokan. Harga minyak bisa bergerak liar, bukan hanya karena kekurangan fisik, tetapi juga karena kepanikan pasar. Dalam kondisi seperti itu, Indonesia akan menghadapi tekanan dari dua arah: harga impor energi naik dan rupiah berpotensi melemah.
Kenaikan harga minyak dunia akan membuat biaya impor BBM dan LPG semakin mahal. Jika pemerintah menahan harga jual BBM subsidi, beban APBN akan membengkak. Namun jika harga dilepas ke pasar, tekanan inflasi dan daya beli masyarakat akan langsung terasa.
Skenario Kedua: Rupiah Makin Tertekan
Krisis Selat Hormuz biasanya mendorong investor global masuk ke aset aman seperti dolar AS, emas, atau obligasi negara maju. Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah cenderung tertekan.
Bank Indonesia dalam laporan Mei 2026 menyebut bahwa stabilitas rupiah tetap menjadi fokus utama, termasuk melalui intervensi valas, transaksi spot, DNDF, dan NDF offshore. BI juga memproyeksikan defisit transaksi berjalan 2026 berada di kisaran 0,5% hingga 1,3% dari PDB.
Jika harga minyak naik tajam, defisit transaksi berjalan bisa melebar karena nilai impor energi meningkat. Saat defisit melebar dan investor asing lebih berhati-hati, tekanan terhadap rupiah akan makin besar. Rupiah yang melemah kemudian membuat impor makin mahal, termasuk impor energi, bahan baku industri, pangan tertentu, dan komponen manufaktur.
Inilah yang membuat efek Selat Hormuz terasa berantai. Minyak naik menekan rupiah, rupiah melemah membuat impor energi makin mahal, lalu biaya produksi naik dan inflasi ikut terdorong.
Skenario Ketiga: Subsidi Energi Membengkak
Salah satu risiko terbesar bagi Indonesia adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi. Pemerintah selama ini menjaga harga BBM tertentu, LPG 3 kg, dan listrik agar tidak langsung mengikuti harga pasar global. Kebijakan ini membantu masyarakat, tetapi ketika harga energi global melonjak, biaya fiskalnya menjadi sangat berat.
Middle East Monitor menulis bahwa kenaikan harga minyak akan membuat biaya menjaga stabilitas harga domestik ikut naik. Pelemahan rupiah juga memperburuk masalah karena impor BBM menjadi lebih mahal dan kewajiban subsidi pemerintah dapat membengkak.
Jika perang berlangsung lama, pemerintah kemungkinan harus memilih salah satu dari tiga opsi sulit. Pertama, menambah subsidi dan menerima tekanan APBN. Kedua, menaikkan harga energi secara bertahap dan menanggung risiko inflasi serta protes publik. Ketiga, memperketat distribusi subsidi agar lebih tepat sasaran.
Dalam praktiknya, pemerintah kemungkinan akan mengambil kombinasi dari ketiganya. Namun tetap saja, ruang fiskal akan makin sempit. Anggaran untuk infrastruktur, bantuan sosial, pendidikan, atau program prioritas lain bisa ikut tertekan jika beban energi membesar terlalu cepat.
Skenario Keempat: Inflasi Bisa Naik dari Jalur Transportasi dan Pangan
Dampak harga minyak tidak berhenti di SPBU. Ketika harga energi naik, biaya transportasi ikut meningkat. Ongkos angkut bahan pangan, barang konsumsi, bahan bangunan, dan produk manufaktur bisa terdorong naik.
Bank Indonesia menargetkan inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran 2,5% plus minus 1%. Namun BI juga menegaskan siap mengambil langkah kebijakan lanjutan jika diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.
Jika Selat Hormuz kembali ditutup, target inflasi tersebut akan menghadapi ujian berat. Inflasi energi biasanya cepat merambat ke sektor lain. Masyarakat mungkin tidak langsung merasakan kenaikan harga minyak dunia, tetapi akan merasakannya lewat ongkos logistik, tarif transportasi, harga makanan, dan harga barang kebutuhan harian.
Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi yang paling rentan. Mereka menghabiskan porsi pendapatan lebih besar untuk makanan, transportasi, dan energi rumah tangga. Jadi, meskipun krisisnya terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, efeknya bisa terasa langsung di dapur rumah tangga.
Skenario Kelima: Industri dan Dunia Usaha Menahan Ekspansi
Jika perang berlangsung lama, pelaku usaha akan menjadi lebih hati-hati. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi biaya lebih tinggi. Industri transportasi, logistik, penerbangan, manufaktur, petrokimia, semen, baja, dan makanan-minuman bisa mengalami tekanan biaya.
Dalam kondisi rupiah lemah dan energi mahal, perusahaan biasanya punya tiga pilihan. Mereka bisa menaikkan harga jual, menekan margin keuntungan, atau menunda ekspansi. Ketiganya punya konsekuensi. Jika harga jual naik, konsumen terbebani. Jika margin ditekan, laba perusahaan turun. Jika ekspansi ditunda, penciptaan lapangan kerja ikut melambat.
Sektor UMKM juga tidak kebal. Banyak UMKM sangat bergantung pada biaya transportasi dan bahan baku harian. Ketika ongkos distribusi naik, mereka sering tidak punya ruang besar untuk menyerap kenaikan biaya. Akhirnya harga produk naik atau keuntungan makin tipis.
Skenario Keenam: Pasar Keuangan Lebih Volatil
Pasar saham dan obligasi Indonesia juga akan terpengaruh. Ketika risiko geopolitik meningkat, investor global biasanya mengurangi eksposur ke aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang. Ini bisa memicu tekanan pada IHSG, harga SBN, dan arus modal asing.
Jika rupiah melemah tajam, Bank Indonesia bisa memperkuat intervensi atau mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama. Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas, tetapi efek sampingnya adalah biaya pinjaman tetap mahal. Kredit konsumsi, kredit kendaraan, KPR, dan pembiayaan usaha bisa tumbuh lebih lambat.
Di sisi lain, sektor tertentu bisa mendapat keuntungan. Emiten komoditas energi seperti batu bara atau migas mungkin diuntungkan oleh harga energi tinggi. Namun secara makro, keuntungan sebagian sektor tidak cukup untuk menutup tekanan luas pada konsumsi, impor, inflasi, dan stabilitas fiskal.
Apakah Indonesia Bisa Bertahan?
Indonesia masih punya beberapa bantalan. Pertama, ekonomi domestik cukup besar dan konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama. Kedua, Bank Indonesia memiliki instrumen stabilisasi rupiah. Ketiga, pemerintah bisa mengatur subsidi dan bantuan sosial untuk meredam tekanan masyarakat. Keempat, Indonesia masih memiliki komoditas ekspor yang bisa membantu neraca perdagangan dalam kondisi tertentu.
Namun bantalan ini tidak berarti Indonesia aman sepenuhnya. Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lama, misalnya berbulan-bulan, tekanan akan semakin berat. AP melaporkan bahwa bahkan setelah kapal mulai kembali melintas, jalur utama masih bisa terbatas karena faktor keamanan dan pembersihan ranjau laut, sehingga pemulihan penuh dapat memakan waktu lama.
Jadi, risiko terbesarnya bukan hanya penutupan satu atau dua minggu, melainkan gangguan berkepanjangan yang membuat harga energi tinggi menjadi normal baru.
Kebijakan yang Perlu Disiapkan Pemerintah
Dalam skenario perang panjang, pemerintah perlu bergerak cepat di beberapa area. Pertama, memastikan cadangan BBM dan LPG cukup, terutama untuk wilayah yang sangat bergantung pada distribusi laut. Kedua, mempercepat pembelian energi dari sumber alternatif agar tidak terlalu bergantung pada jalur Teluk.
Ketiga, memperketat subsidi agar benar-benar menyasar masyarakat rentan. Subsidi yang terlalu luas akan makin berat jika harga minyak melonjak, tetapi pencabutan subsidi secara mendadak juga bisa menciptakan guncangan sosial.
Keempat, memperkuat koordinasi fiskal dan moneter. Pemerintah perlu menjaga APBN tetap kredibel, sementara BI menjaga rupiah dan inflasi. Kelima, mempercepat transisi energi secara realistis. Dalam jangka panjang, semakin besar ketergantungan pada impor minyak, semakin rentan Indonesia terhadap krisis geopolitik seperti Selat Hormuz.
Semua Lini Kacau Balau
Jika Selat Hormuz kembali ditutup dan perjanjian damai gagal, ekonomi Indonesia kemungkinan akan menghadapi tekanan serius. Dampaknya tidak hanya berupa kenaikan harga minyak, tetapi juga pelemahan rupiah, pembengkakan subsidi energi, tekanan inflasi, kenaikan biaya logistik, volatilitas pasar keuangan, dan melambatnya ekspansi dunia usaha.
Dalam jangka pendek, pemerintah mungkin masih bisa menahan sebagian dampak melalui subsidi, intervensi rupiah, dan pengaturan pasokan. Namun jika perang berlangsung lama, tekanan fiskal dan daya beli masyarakat akan semakin berat.
Skenario paling realistis adalah ekonomi Indonesia tetap tumbuh, tetapi dengan laju yang lebih lambat, inflasi lebih tinggi, rupiah lebih volatil, dan APBN lebih tertekan. Karena itu, krisis Selat Hormuz bukan hanya isu Timur Tengah. Bagi Indonesia, ini adalah ujian besar terhadap ketahanan energi, stabilitas fiskal, dan kemampuan menjaga daya beli masyarakat.
Referensi
https://www.eia.gov/todayinenergy/detail.php?id=65504
https://www.iea.org/about/oil-security-and-emergency-response/strait-of-hormuz
https://apnews.com/article/strait-of-hormuz-oil-prices-iran-war-8304cc39c6ebe6f863f6f39ee6ce9768
https://apnews.com/article/01c1335e69e40f2ee921e25e59a18a71
https://www.bi.go.id/en/publikasi/laporan/Pages/TKM-Mei-2026.aspx
https://www.bi.go.id/en/publikasi/laporan/Pages/Laporan-Kebijakan-Moneter-Triwulan-I-2026.aspx
https://www.middleeastmonitor.com/20260325-the-strait-of-hormuz-crisis-is-indonesias-economic-test/













