aijingtu – Ada pemandangan yang mulai sering terlihat di sejumlah jalan Jakarta belakangan ini.
Mobil tangki bergerak perlahan.
Selang diarahkan ke udara.
Kemudian ribuan liter air berubah menjadi kabut halus yang menyebar di sekitar jalan raya.
Orang-orang yang melintas mungkin hanya melihatnya sebagai penyemprotan biasa.
Sebagian mungkin berpikir pemerintah sedang mendinginkan jalan karena Jakarta sedang panas.
Sebagian lain mungkin mengira sedang ada pembersihan jalan.
Namun kali ini ada alasan yang lebih serius.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang menggencarkan water mist untuk membantu mengendalikan partikulat di udara sekaligus mengantisipasi potensi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Operasi dilakukan di lima wilayah Jakarta.
Tidak hanya satu ruas jalan.
Silang Monas terkena semprotan.
Koridor Thamrin-Sudirman ikut disisir.
Jalan Yos Sudarso, Gunung Sahari, Rasuna Said, M.T. Haryono, Slipi hingga Tomang juga masuk dalam area pelaksanaan.
Puluhan kendaraan tangki dikerahkan.
Ratusan petugas turun.
Pengelola gedung bahkan diminta ikut mengaktifkan fasilitas water mist yang mereka miliki.
Sekilas terdengar seperti Jakarta sedang mencoba “mencuci udara”.
Pertanyaannya, apakah memang sesederhana itu?
Kalau udara penuh partikulat, apakah cukup disemprot air lalu masalah selesai?
Jawabannya lebih menarik daripada sekadar iya atau tidak.
Jakarta Gencarkan Water Mist Setelah Erupsi Anak Krakatau
Pemprov DKI Jakarta melakukan operasi water mist secara serentak di lima wilayah pada Minggu, 6 September 2026.
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan sebaran partikulat akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Sekretaris Daerah DKI Jakarta Uus Kuswanto mengatakan water mist digunakan untuk membantu mengendalikan debu atau partikulat yang berada di udara sekaligus menjaga kualitas udara di area aktivitas masyarakat.
Ada satu detail yang menarik.
Jakarta secara geografis tidak berada tepat di samping Anak Krakatau.
Namun abu vulkanik tidak bergerak berdasarkan batas provinsi.
Setelah dikeluarkan gunung, partikel yang cukup halus dapat terbawa angin mengikuti kondisi atmosfer.
Pemprov DKI bahkan menyebut indikasi sebaran material dapat dirasakan hingga kawasan Monas sehingga pemerintah memilih mengambil langkah antisipasi.
Pemerintah juga menegaskan bahwa operasi water mist bukan berarti seluruh Jakarta telah dipastikan terkena abu vulkanik.
Artinya, penyemprotan dilakukan sebagai langkah preventif sambil pemantauan kualitas udara dan sebaran partikulat terus berlangsung.
Bukan Cuma Monas yang Disemprot
Kalau operasi hanya dilakukan di Monas, mungkin masih terlihat seperti kegiatan simbolis.
Namun skalanya lebih luas.
Di Jakarta Utara, penyemprotan dilakukan di koridor Jalan Yos Sudarso mulai Tanjung Priok hingga Cempaka Mas, Jalan Gunung Sahari dan kawasan Pluit.
Di Jakarta Pusat, operasi bergerak dari Cempaka Mas hingga Green Pramuka.
Jakarta Timur mendapat penyemprotan di kawasan Green Pramuka menuju UKI serta dari Terminal Kampung Melayu hingga PGC Cawang.
Jakarta Selatan mencakup kawasan Rasuna Said hingga Pejaten Village serta M.T. Haryono sampai Semanggi.
Sementara Jakarta Barat mencakup Slipi, Tomang dan kawasan sekitarnya.
Gulkarmat DKI mengoperasikan 14 unit di tujuh titik dengan dukungan sekitar 70 personel.
Dinas Lingkungan Hidup mengerahkan satu unit water mist mobile dan dua kendaraan tangki air.
Dinas Pertamanan dan Hutan Kota bahkan mengerahkan 77 tangki dengan 144 personel.
Kalau dijumlahkan, ini jelas bukan sekadar satu mobil pemadam menyemprot jalan.
Jakarta memang sedang mencoba menggunakan air dalam skala besar untuk menghadapi persoalan partikulat.
Sebenarnya Water Mist Itu Ngapain?
Secara sederhana, water mist bekerja dengan memecah air menjadi droplet atau butiran yang sangat kecil.
Butiran tersebut kemudian disemprotkan ke udara.
Tujuannya adalah membuat droplet air berinteraksi dengan partikel yang melayang.
Partikel debu atau material lain dapat bertumbukan dengan butiran air, kemudian ukurannya membesar dan lebih mudah mengendap.
Itulah alasan water mist sering digunakan pada lokasi yang menghasilkan debu.
Misalnya proyek konstruksi.
Tambang.
Area industri.
Jalan dengan konsentrasi debu tinggi.
Dalam konteks Jakarta, ide dasarnya mirip.
Ada partikulat di udara.
Air disemprotkan dalam bentuk kabut.
Partikel diharapkan terikat dan turun ke permukaan.
BPBD DKI menjelaskan water mist dilakukan dengan penyemprotan air berukuran droplet halus dengan tujuan membantu mengikat dan mengendapkan partikel debu di sekitar lokasi penyemprotan.
Kedengarannya sederhana.
Namun atmosfer kota bukan ruangan tertutup.
Angin bergerak.
Kendaraan terus menghasilkan emisi.
Partikel baru terus muncul.
Dan di situlah keterbatasannya mulai terlihat.
Water Mist Bisa Membantu, tetapi Udara Jakarta Terus Bergerak
Bayangkan kita sedang membersihkan kamar berdebu.
Semprotkan air sangat halus.
Sebagian debu dapat turun.
Masalahnya, kamar itu memiliki pintu dan jendela terbuka, angin masuk terus-menerus, dan setiap beberapa detik ada orang membawa debu baru ke dalam.
Kurang lebih seperti itulah tantangan penggunaan water mist di kota terbuka.
Penyemprotan dapat membantu menekan partikulat di area tertentu.
Namun efeknya sangat bergantung pada kondisi.
Kecepatan angin berpengaruh.
Lokasi alat berpengaruh.
Ketinggian penyemprotan berpengaruh.
Durasi operasi berpengaruh.
Ukuran droplet juga berpengaruh.
Dan yang paling penting, sumber polusi masih terus bekerja.
Mobil tetap berjalan.
Motor tetap lewat.
Truk diesel tetap menghasilkan emisi.
Kegiatan industri tetap berlangsung.
Karena itu water mist lebih tepat dipahami sebagai alat mitigasi lokal, bukan penghapus sumber pencemaran.
Pemprov DKI Mengklaim Sebaran PM10 Mulai Berkurang
Pada 7 September 2026, Pemprov DKI menyatakan operasi water mist dan penyiraman menunjukkan indikasi perbaikan pada sebaran partikulat.
Pemantauan pada 6 hingga 7 September menunjukkan area dengan PM10 tinggi yang sebelumnya cukup luas di Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan menjadi lebih terbatas setelah penyiraman dilakukan.
Ini tentu kabar baik.
Tetapi kalimat “setelah penyiraman” perlu dibaca hati-hati.
Dalam lingkungan terbuka, perubahan konsentrasi PM10 tidak selalu disebabkan oleh satu faktor saja.
Angin bisa berubah.
Kelembapan meningkat.
Sumber emisi berubah.
Aktivitas lalu lintas berbeda antara satu jam dengan jam lainnya.
Sebaran abu juga dapat bergeser.
Karena itu, korelasi waktu tidak otomatis membuktikan seluruh perubahan terjadi hanya karena water mist.
Namun setidaknya pengamatan tersebut menunjukkan bahwa operasi penyiraman berpotensi memberi dampak lokal terhadap konsentrasi partikulat.
PM10 dan PM2.5 Itu Beda Cerita
Ketika membicarakan polusi udara, dua istilah sering muncul.
PM10.
Dan PM2.5.
Angka itu mengacu pada ukuran partikel.
PM10 secara umum mencakup partikel berdiameter hingga sekitar 10 mikrometer.
PM2.5 jauh lebih kecil.
Ukuran ini penting karena perilaku partikel berbeda.
Partikel yang lebih besar relatif lebih mudah mengalami sedimentasi.
Partikel yang sangat halus dapat bertahan lebih lama di udara.
Karena itu, water mist tidak selalu mempunyai efektivitas yang sama terhadap semua ukuran partikel.
Pemprov DKI pada masa sebelumnya pernah menyatakan uji coba water mist di Gedung Pertamina dan Balai Kota menunjukkan penurunan PM2.5 di sekitar lokasi.
Namun pada Maret 2026, DLH DKI juga mengakui pengoperasian water mist di Jakarta belum maksimal karena belum ada standar teknis yang seragam mengenai durasi penggunaan, ketinggian gedung dan waktu operasional.
Dengan kata lain, bahkan pemerintah sendiri mengakui persoalannya belum selesai hanya dengan memasang alat.
Water Mist Pernah Masif Dipasang Sejak 2023
Bagi Jakarta, water mist sebenarnya bukan barang baru.
Saat polusi udara ibu kota menjadi perhatian besar pada 2023, teknologi ini mulai banyak diperkenalkan di gedung-gedung.
Sekitar seratus gedung disebut pernah memasang perangkat water mist.
Idenya adalah menyemprotkan kabut air dari ketinggian agar partikel polutan di sekitar gedung dapat berkurang.
Pada saat itu hasil pengukuran lokal menunjukkan penurunan PM2.5 di beberapa lokasi.
Namun tiga tahun kemudian, DLH DKI mengakui implementasinya belum terstandardisasi.
Pertanyaan teknis sederhana ternyata belum mempunyai jawaban seragam.
Berapa jam alat harus menyala?
Pukul berapa paling efektif?
Gedung setinggi apa yang cocok?
Berapa banyak air yang dibutuhkan?
Seberapa luas area pengaruhnya?
Pertanyaan semacam itu sangat menentukan apakah water mist benar-benar menjadi kebijakan lingkungan atau hanya menjadi alat yang sesekali dinyalakan ketika udara buruk.
Sekarang Gedung-gedung Diminta Ikut Menyalakan Water Mist
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan water mist akan terus dilakukan hingga Selasa, 8 September 2026.
Ia juga meminta gedung-gedung yang mempunyai fasilitas tersebut ikut mengoperasikannya.
Jakarta Selatan misalnya mengoperasikan perangkat water mist di Gedung Wali Kota dalam tiga sesi.
Pukul 09.00 hingga 11.00.
Kemudian 13.00 hingga 15.00.
Dan kembali pukul 17.00 hingga 19.00.
Pemkot Jakarta Selatan berharap pengoperasian tersebut dapat menjadi contoh bagi gedung pemerintah maupun swasta.
Pemilihan jam itu juga menarik karena beririsan dengan periode aktivitas masyarakat dan lalu lintas yang tinggi.
Tetapi lagi-lagi, dampaknya paling logis dibaca sebagai pengendalian lokal.
Satu gedung tidak mungkin membersihkan seluruh udara Jakarta.
Bahkan Sebelum Abu Krakatau, Jakarta Sudah Menyemprot Jalan
Konteks lain yang penting adalah water mist sebenarnya sudah digunakan sebelum perhatian tertuju pada abu vulkanik.
Pada 4 September 2026, Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan melakukan penyemprotan di sepanjang Jalan HR Rasuna Said hingga Mampang Prapatan Raya.
Alasannya saat itu adalah polusi udara akibat tingginya volume kendaraan.
Koridor tersebut dikenal sangat padat oleh kendaraan bermotor.
Pemerintah ingin menekan konsentrasi partikulat sekaligus membantu menurunkan suhu di kawasan tersebut.
Dua hari kemudian, ketika isu abu vulkanik Anak Krakatau muncul, operasi water mist mendapat fungsi tambahan.
Dari sekadar mitigasi polusi lalu lintas menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi partikulat vulkanik.
Jadi sebenarnya ada dua masalah yang bertemu pada alat yang sama.
Polusi kota.
Dan abu gunung api.
Abu Vulkanik dan Polusi Kendaraan Sama-sama Partikel, tetapi Bukan Hal yang Sama
Di sinilah perlu sedikit kehati-hatian.
Partikulat dari emisi kendaraan dan abu vulkanik sama-sama bisa terdeteksi sebagai partikel di udara.
Namun komposisinya berbeda.
Abu vulkanik berasal dari fragmen batuan, mineral dan kaca vulkanik.
Partikel polusi kendaraan dapat berasal dari pembakaran bahan bakar, jelaga, keausan rem dan ban, serta berbagai proses lain.
Ukuran partikelnya pun bisa berbeda.
Karena itu, ketika angka PM10 meningkat setelah erupsi gunung, tidak otomatis seluruh PM10 berasal dari abu vulkanik.
Jakarta memang sudah mempunyai latar belakang polusi partikulat sendiri bahkan tanpa erupsi.
Lalu lintas padat tetap ada.
Konstruksi tetap berjalan.
Industri tetap menghasilkan emisi.
Itulah mengapa analisis sumber pencemar lebih rumit daripada melihat satu angka pada monitor.
Jangan Sampai Water Mist Dianggap Obat Utama Polusi Jakarta
Di sinilah kritik terhadap kebijakan water mist menjadi penting.
Teknologinya tidak salah.
Kabut air memang dapat membantu menangkap partikel pada kondisi tertentu.
Tetapi kalau water mist dipromosikan sebagai jawaban utama polusi Jakarta, narasinya menjadi problematik.
Polusi udara kota berasal dari sumber.
Kalau sumber tersebut tidak dikurangi, pemerintah pada dasarnya terus membersihkan hasil akhirnya.
Bayangkan keran bocor memenuhi lantai dengan air.
Kita sibuk mengepel.
Lantainya memang lebih kering untuk sementara.
Tetapi kerannya masih terbuka.
Dalam konteks Jakarta, “keran” itu dapat berupa emisi kendaraan bermotor, industri, kegiatan konstruksi, pembakaran terbuka dan sumber pencemaran lainnya.
Water mist bekerja setelah partikel sudah berada di udara.
Pengendalian emisi bekerja sebelum partikel dilepaskan.
Keduanya bukan hal yang sama.
Studi Ilmiah Juga Menunjukkan Efeknya Bisa Sangat Lokal
Penelitian mengenai misting system menunjukkan hasil yang tidak selalu sederhana.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Applied Sciences pada 2024 menguji penggunaan mist generator untuk partikulat di ruang terbuka perkotaan.
Peneliti menemukan penyemprotan kabut dapat memengaruhi konsentrasi dan distribusi ukuran partikulat, tetapi efeknya bergantung pada waktu dan kondisi pengujian.
Dalam beberapa kondisi, konsentrasi dapat berubah ketika kabut disemprotkan lalu kembali mendekati kondisi awal setelah proses selesai.
Temuan semacam ini memperkuat satu pesan.
Water mist bukan sihir.
Ia mempunyai area kerja.
Mempunyai durasi.
Dan mempunyai kondisi optimal tertentu.
Itulah mengapa evaluasi dengan alat pengukur kualitas udara jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak mobil tangki yang turun ke jalan.
Ada Juga Persoalan Air yang Dipakai
Water mist membutuhkan air.
Semakin luas operasi, semakin besar volume yang diperlukan.
Dalam operasi 6 September saja, Gulkarmat mengoperasikan beberapa tangki berkapasitas total ribuan liter per unit operasi.
Dinas Lingkungan Hidup juga mengerahkan tangki tambahan.
Dinas Pertamanan membawa puluhan tangki.
Pada kondisi darurat atau episode partikulat tinggi, penggunaan tersebut mungkin dapat dibenarkan sebagai mitigasi.
Namun jika water mist hendak dijadikan program jangka panjang, efisiensi air harus ikut dihitung.
Apalagi Jakarta juga menghadapi persoalan air bersih, musim kemarau dan kebutuhan sumber daya kota lainnya.
Pertanyaannya bukan sekadar “apakah air bisa menangkap debu?”
Pertanyaannya juga “berapa banyak air yang dibutuhkan untuk menghasilkan penurunan polutan yang berarti?”
Dan itu harus diukur.
Water Mist Bisa Berguna Kalau Kita Tidak Memaksanya Menjadi Pahlawan
Ada kecenderungan dalam kebijakan publik untuk mencari satu alat yang terlihat konkret.
Polusi udara meningkat?
Keluarkan mobil water mist.
Kualitas udara buruk?
Nyalakan alat di gedung.
Secara visual, kebijakan ini mudah dipahami.
Masyarakat bisa melihat pemerintah sedang bekerja.
Ada kendaraan.
Ada petugas.
Ada air yang disemprotkan.
Masalahnya, polusi udara tidak peduli apakah kebijakan terlihat dramatis di kamera.
Yang penting adalah berapa banyak emisi yang benar-benar berkurang dan berapa besar paparan warga turun.
Water mist paling masuk akal ketika diposisikan sebagai salah satu alat.
Bukan satu-satunya alat.
Untuk situasi partikulat sementara seperti debu jalan atau potensi jatuhan abu, penggunaannya mempunyai logika yang cukup jelas.
Untuk polusi struktural Jakarta, ceritanya jauh lebih besar.
Jakarta Juga Sedang Menggunakan Modifikasi Cuaca
Menariknya, water mist darat bukan satu-satunya eksperimen yang sedang dilakukan Pemprov DKI.
Pada akhir Agustus 2026, BPBD Jakarta juga menjalankan operasi modifikasi cuaca menggunakan metode water mist dari udara.
Sebanyak sekitar 1.000 liter campuran digunakan dalam operasi penyemprotan di lapisan atmosfer.
Pemprov menyebut pemantauan di beberapa stasiun menunjukkan penurunan PM2.5 pada periode operasi sekaligus munculnya presipitasi di sebagian wilayah.
Tetapi prinsip pembacaannya tetap sama.
Perubahan kualitas udara perlu dievaluasi bersama kondisi meteorologi.
Angin.
Hujan.
Kelembapan.
Pergerakan massa udara.
Semua bisa memengaruhi angka konsentrasi partikel.
Kalau tidak, kita bisa terlalu cepat memberikan kredit kepada satu intervensi untuk perubahan yang sebenarnya dihasilkan oleh beberapa faktor sekaligus.
Water Mist Layak Dipakai, tetapi Datanya Harus Dibuka
Kalau Jakarta ingin terus menggunakan water mist, langkah berikutnya justru bukan membeli sebanyak mungkin alat.
Yang dibutuhkan adalah data.
Berapa PM2.5 sebelum alat dinyalakan?
Berapa ketika alat bekerja?
Berapa setelah alat dimatikan?
Berapa radius pengaruhnya?
Berapa liter air yang digunakan?
Bagaimana pengaruh kecepatan angin?
Apakah lebih efektif untuk PM10 daripada PM2.5?
Berapa lama penurunannya bertahan?
Kalau parameter tersebut dipublikasikan secara konsisten, masyarakat bisa melihat apakah water mist memberikan manfaat yang sepadan dengan biaya dan sumber daya yang digunakan.
Tanpa pengukuran semacam itu, keberhasilan mudah berubah menjadi klaim.
Hari ini disebut berhasil.
Besok orang bertanya berhasil seberapa besar.
Tidak ada yang tahu.
Kabut Air Boleh Mengendapkan Debu, tetapi Jangan Mengaburkan Masalah
Keputusan Jakarta menggencarkan water mist pada awal September 2026 punya alasan yang cukup jelas.
Gunung Anak Krakatau sedang aktif.
Potensi sebaran partikulat menjadi perhatian.
Jakarta juga sedang menghadapi musim kemarau dan problem kualitas udara yang memang sudah lama ada.
Pemerintah kemudian mengerahkan tangki air, petugas, perangkat mobile dan fasilitas di gedung-gedung untuk membantu mengendapkan partikel.
Dalam konteks mitigasi jangka pendek, langkah ini masuk akal.
Bahkan Pemprov melaporkan indikasi penyempitan wilayah dengan konsentrasi PM10 tinggi setelah operasi dilakukan.
Tetapi water mist sebaiknya dipahami sesuai ukurannya.
Ia dapat membantu membersihkan udara secara lokal.
Ia bukan tombol reset untuk atmosfer Jakarta.
Selama kendaraan masih menghasilkan emisi, industri masih mencemari, proyek konstruksi masih menghasilkan debu dan sumber polusi lainnya belum dikendalikan, partikel baru akan terus muncul.
Kabut air bisa menjatuhkan sebagian debu ke tanah.
Tetapi ia tidak bisa menyelesaikan penyebab seluruh debu itu muncul.
Dan mungkin di situlah batas antara kebijakan yang berguna dan kebijakan yang hanya terlihat sibuk.
Water mist tetap layak digunakan ketika kondisinya tepat.
Namun jangan sampai pemandangan puluhan mobil menyemprot air membuat kita merasa masalah kualitas udara sudah ditangani sampai akar.
Karena Jakarta tidak hanya membutuhkan udara yang terlihat lebih bersih setelah disemprot.
Jakarta membutuhkan udara yang memang menghasilkan lebih sedikit polutan sejak awal.
Referensi
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, “Antisipasi Sebaran Abu Vulkanik, Pemprov DKI Serentak Lakukan Water Mist di Lima Wilayah”, 6 September 2026: https://www.beritajakarta.id/siaran-pers/provinsi/read/7018-SP-HMS-09-2026
BPBD Provinsi DKI Jakarta, “Pelaksanaan Watermist Sebagai Upaya Mitigasi Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau”, 6 September 2026: https://bpbd.jakarta.go.id/berita/eW9URzhVUVp6M2xKbkdMSkt3LzIrZz09/pelaksanaan-watermist-sebagai-upaya-mitigasi-dampak-abu-vulkanik
ANTARA, “Pemprov DKI masih lakukan penyemprotan water mist hingga besok”, 7 September 2026: https://www.antaranews.com/berita/5729979/pemprov-dki-masih-lakukan-penyemprotan-water-mist-hingga-besok
ANTARA, “DKI sebut pengoperasian water mist kurangi sebaran abu vulkanik”, 7 September 2026: https://www.antaranews.com/berita/5730175/dki-sebut-pengoperasian-water-mist-kurangi-sebaran-abu-vulkanik
ANTARA, “Tekan polusi udara, Rasuna Said-Mampang Prapatan disemprot kabut air”, 4 September 2026: https://www.antaranews.com/berita/5725616/tekan-polusi-udara-rasuna-said-mampang-prapatan-disemprot-kabut-air
ANTARA, “Tekan polusi udara, Pemkot Jaksel operasikan water mist”, 7 September 2026: https://www.antaranews.com/berita/5729959/tekan-polusi-udara-pemkot-jaksel-operasikan-water-mist
DetikNews, “Pemprov DKI Ungkap Penyebab Water Mist Belum Maksimal Tekan Polusi Udara”, 4 Maret 2026: https://news.detik.com/berita/d-8384616/pemprov-dki-ungkap-penyebab-water-mist-belum-maksimal-tekan-polusi-udara
ANTARA, “DLH DKI: Water Mist Efektif Kurangi Polusi Udara”, 12 September 2023: https://www.antaranews.com/berita/3723354/dlh-dki-water-mist-efektif-kurangi-polusi-udara
BPBD Provinsi DKI Jakarta, “Pemprov DKI Jakarta Melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca OMC”, 28 Agustus 2026: https://bpbd.jakarta.go.id/berita/dnQwanJmTzBtMG1XTk5yQlp2UWhsQT09/pemprov-dki-jakarta-melaksanakan-operasi-modifikasi-cuaca-omc
Lee et al., “An Application of Mist Generator as a Way to Reduce Particulate Matter during High Concentration Episodes in Urban Forests”, Applied Sciences, 2024: https://www.mdpi.com/2076-3417/14/19/9061